Membaca dan Menulis

Toko buku adalah daerah yang berbahaya. Kenapa? Karena bisa membuat kita lupa waktu sama sekali, terutama jika ia menyediakan buku/majalah yang bungkusannya sudah dibuka sehingga bisa kita lihat-lihat sebelum dibeli. Pada jenis buku tertentu saya lebih suka yang berbahasa inggris, misalnya buku-buku disain, fotografi dan psikologi populer. Selain karena bahasanya yang lebih ‘enak’ daripada buku terjemahan, mungkin juga karena pengaruh packaging bukunya kaliย ya, kertas yang menggunakan art paper, full color dan layoutnya yang menarik.

Jadi kali ini saya akan menuliskan sedikit review mengenai toko buku ak.’sa.ra & Times cabang Pacific Place, tempat yang selalu membuat saya betah berjam-jam berdiri hanya untuk menikmati isinya.

Times Book Stores
Di PP, Times memiliki 2 counter: di lantai 2 dan lantai LG. Counter lantai 2 lebih luas sedangkan yang di lantai LG lebih mini karena lebih berfokus menyajikan majalah-majalah luar maupun lokal. Di Times-lah kita bisa menemukan post card alias KARTU POS. Jadi, kalo mau mencari kartu pos, lupakanlah gramedia atau toko buku gunung agung -karena kita malah akan berakhir ditertawakan petugasnya gara-gara nyari kartu pos. Kartu pos di Times cabang PP ini banyak sekali pilihan gambarnya, tidak seperti di Times BIP Bandung yang hampir habis. Sayangnya sih, kartu pos tersebut semuanya produksi Singapura, hiks. Miris ya, bahan promosi tourism Indo malah diproduksi negara lain. Tapi lumayanlah saya sempet kena promo beli 2 gratis 1. Kalau saya punya kesempatan keliling Indonesia untuk motret sih, pasti saya jadi juragan kartu pos karena bisa bikin sendiri.
Sebenarnya, saya kurang merasakan kekhasan buku-buku yang disediakan oleh Times. Entah karena targetnya adalah pasar secara luas sehingga jenis bukunya tidak terlalu spesifik, atau malah sayanya yang bukan tipikal target pasar toko buku tersebut sehingga tidak merasakan vibe nya. Yang jelas, ada satu hal yang saya notice dari Times, yaitu ia lebih memberikan banyak pilihan buku fotografi daripada ak.’sa.ra.

ak.’sa.ra
Buku di ak.’sa.ra lebih banyak mengenai art, disain interior, disain grafis, fashion, dan sejenisnya. Selain itu terlihat juga banyak buku business management. Dari buku-bukunya, sepertinya ak.’sa.ra memang merupakan source yang menyenangkan bagi orang-orang di industri kreatif. Selain buku, ak.’sa.ra juga menyediakan CD musik indie, toycam, sampai bermacam-macam stationary unik.

Begitulah tempat yang biasa saya datangi untuk mencari bacaan disain, fotografi dan aneka self motivation books, walaupun seringkali saya pulang dengan tangan hampa gara-gara harganya yang selangit.
Untuk novel terjemahan, saya cukup pemilih. Sebutlah Agatha Christie & Daniel Keyes, mereka jagoan saya. Agatha Christie dengan dunia Hercule Poirot, suasana eropa tahun 1900an, teka-teki dan pembunuhan. Daniel Keyes dengan thriller psychology science fictionnya. Novel-novel fantasi bukan favorit saya, Harry Potter saja baru 1 novel yang tuntas dibaca. Twilight? Oh oke saya suka Twilight, sebelum difilmkan. Setelah filmnya keluar, saya jadi menyesal punya ketiga novelnya. Koleksi Agatha Christie & Daniel Keyes saya tidak banyak, dulu beli di Gramedia dengan uang jajan anak SMA yang pas-pasan :p
Saya juga punya cukup banyak buku-buku Islami. Awalnya waktu TPB saya sering beli di gramedia, lalu seiring dengan bertambahnya usia, saya baru tahu kalau di Gelap Nyawang ada toko buku Islam yang buku-bukunya selalu diskon 30%. Aaargh.

Kemudian buku-buku Indonesiaaaa!! Nah, untuk buku lokal (selain buku Islami) saya tidak begitu milih-milih, tapi ya karena ada begitu banyak buku di luar sana, saya cenderung membacanya berdasarkan review di internet maupun rekomendasi teman-teman sendiri. Kalau memang bagus banget, saya beli bukunya. Jenisnya cukup bermacam-macam, dari teenlit, pramoedya, buku-buku psikologi, dee, sampai biografi. Yang jelas, perkenalan saya dengan sastra bisa dibilang cukup menarik. Jadi begini, guru bahasa Indonesia saya di SMA adalah penggemar sastra. Di SMA kelas 3 itulah saya baru merasa bahwa bahasa Indonesia sangat menyenangkan. Awalnya kami belajar sejarah sastra Indonesia -sesuatu yang sangat tidak menarik menurut saya saat itu. Kemudian, per minggu kami diberi tugas: meneruskan cerpen, membuat puisi, pantun, review buku sastra, dll. Oke, mirip-mirip PRnya anak SD sih sebenarnya. Tapi setelah saya mencoba berkarya, saya baru sadar bahwa menulis adalah sesuatu yang membebaskan! Bebas! Apapun bisa! Terserah! Wah, sampai beberapa kali saya membacakan karya sendiri di depan kelas karena pak guru menyukai tulisan saya. Baru kali itulah saya beneran menulis dengan semuanya mengalir dan hidup tanpa paksaan :) Oh iya, dulu juga pernah ada tugas membuat drama. Saat itu guru bimbingan konseling ikut menonton pertunjukkan kelompok saya, kemudian tiba-tiba beliau dengan seriusnya merekomendasikan saya masuk IKJ jurusan drama, haha segitunya ya…

Jalan Kaki

Siapa sangka jalan kaki sepanjang jalan Juanda di siang bolong sambil minum Bubble Tea dingin dan nyari kantor pos bisa begitu menarik? Walaupun lama-lama rasanya jadi pengen pingsan saking panas & teriknya. Biasanya kalo sepanas itu saya bisa langsung mimisan. Untungnya tadi nggak. Jalan kaki itu menyenangkan kalau sepanjang jalan berjejer buanyak pohon dan kita juga bisa memperhatikan benda-benda yang kita temukan di sepanjang jalan. Contohnya, saya tadi nemu tempat fotokopi namanya Minolta Photocopy. Bukan Photography ya, tapi Photocopy. Penanda tokonya udah jadul banget dan sebelahan sama toko buku Elvira. Tempatnya seperti apa saya ngga tau juga sih, ngga mampir soalnya.
Bagi yang tertarik jalan-jalan seperti ini, saya punya beberapa tips:
1. Bagi yang tidak berjilbab, pakailah topi.
2. Jangan lupa pake sunblock. Bukan masalah kulitnya jadi item atau ngga sih, tapi ini masalah kanker kulit.
3. Pakailah ransel. Bukan masalah keren atau ngga keren, tapi beban bawaan jadi rata di pundak kanan dan kiri. Sehat!
4. Bawa minum!
5. Kalo mau santai, pakailah sendal jepit.
6. Be impulsive. Just do it.

Tips khusus buat cewek:
Pake baju yang LONGGAR dan yang pake jilbab panjangkanlah jilbabnya. Ini hasil riset dan pengamatan saya pribadi ya. Soalnya udah sekitar 10 TAHUN terakhir saya selalu memerhatikan fenomena ini:
Misalnya ada perempuan jalan kaki di jalan pake baju biasa (contoh: jeans pinsil dan kaos) yang pas badan (ngga ngetat ya, pas badan aja) kemudian melewati seorang atau segerombolan laki-laki. Ngga ngaruh apakah perempuan ini jalan sendiri atau bareng temen-temennya. Ngga ngaruh juga dia ini cantik atau ngga. Banyak laki-laki yang ‘otomatis’ menundukkan kepala masing-masing dan menaruh pandangannya di bagian belakang bawah agak ke tengah bagian tubuh perempuan itu. Bokong. Dari bokong, matanya menjalar ke atas, ke bawah, ke atas, ke bawah lagi. Si perempuan mungkin ngga sadar diliatin (pasti ngga sadar sih), tapi saya sadar betul kemana bola mata seseorang berkelana. Saya ngga bego, udah 10 tahun saya memerhatikan fenomena ini, sejak kelas 6 SD.
TAPIII… saya ngga bilang semua laki-laki ya, saya bilangnya banyak laki-laki. Segala usia dan profesi, dari yang pake seragam SMA, mas-mas yang duduk di sebelah supir angkot, bapak-bapak beruban di warung kopi pinggir jalan, sampe yang berdasi sekalipun.
Ini adalah tingkah laku paling minimal yang mereka dilakukan. Kadang disertai dengan siulan atau memanggil-manggil ngga jelas gitu. Yang jelas (mungkin) tujuannya adalah memancing perempuan untuk bereaksi terhadap gangguan-gangguan itu. Nah ini, saya ngga ngerti isi otak laki-laki itu seperti apa dan kenapa bisa seperti itu. Dan ngga mau tau juga isinya apa.
Yang jelas menurut saya itu adalah pelecehan seksual. Titik.
Oke, itu adalah studi kasus seorang perempuan yang memakai baju biasa dan pas badan. Ngga perlu lah ya saya jelasin kalo kasusnya adalah perempuan pake rok mini dan baju ketat. Kira-kira aja sendiri.
Jadi, pakailah baju yang longgar. Ngga apa-apa kok kalo disangka rapper. Temen saya aja pernah manggil saya rapper karena pakaian saya mirip rapper-rapper laki-laki berkulit hitam. Bahkan ada juga temen saya yang mimpi saya nge-rap. Oh oke, maap, emang ngga penting. Yang jelas sih kalo jilbab saya disuruh diiket-iket di leher gitu… it’s absolutely a BIG no no no. Saya tolak mentah-mentah. MENTAH.

Nevertheless,
walaupun kita tinggal di dunia yang seperti ini, saya yakin masih ada laki-laki yang baik hatinya dan menghormati perempuan sebagaimana ia menyayangi ibu dan saudaranya yang perempuan. Seorang perempuan pun tidak butuh jadi seorang feminis jika ia adalah seorang muslimah. Kenapa? Karena Islam sudah melindungi dan memenuhi hak-hak, kebutuhan masing-masing gender sesuai peran dan sifat alamiahnya. Yang penting adalah apakah sang muslimah mengikuti konsepsi Islam dengan baik? bukan sekedar menjudge agamanya sendiri berdasarkan perilaku orang yang menjalankan Islam secara asal-asalan.

Saya ngga akan minta maaf bagi yang tersinggung. Silahkan tersinggung.

Makian

Entah sejak kapan saya tak lagi menyengajakan diri menonton televisi, terutama yang lokal. Kalaupun sengaja, yang saya cari adalah acara memasak Bara dan film yang menarik di tivi kabel. Bahkan sampai Ramadhan hari ke-sekian ini saya belum pernah nonton acara sahur maupun acara berbuka. Satu-satunya dari televisi yang menyemangati sahur adalah ingatan kanak-kanak saya tentang iklan rokok yang dulu sering diputar, “Djarum djaruuuumm.. tujuh enaaaaam..” begitu bunyinya.

Untuk beberapa hal, orang memaki karena emosi dan benci. Untuk beberapa hal lainnya, orang memaki untuk sebuah kepuasan. Latar belakangnya adalah fakta; dan opini yang dibuat kabur agar terindera sebagai fakta. Orang-orang percaya adanya konspirasi, tapi untuk hal-hal terkait suku, antar golongan, ras, dan agama mereka hanya ingin mempercayai apa yang ingin mereka yakini. Termasuk mereka penganut agama universal bahkan mereka yang mengaku tak ber-Tuhan. Otak mereka berada di kotaknya masing-masing. Di era banjir informasi seperti ini, pihak mana yang layak dipercaya? Saya bahkan tidak percaya terhadap televisi saya sendiri karena di dalamnya adalah berita bohongan yang dikemas dengan kebohongan yang lain. Melucuti hati dan membuat orang percaya dengan apa yang mereka tampilkan di layar, agar orang saling memaki satu dengan lainnya. Terombang-ambinglah orang yang percaya dengan berita yang mereka simak. CURIGA, pasanglah itu di depan pintumu.

Kebanyakan muslim tidak mencerminkan Islam. Tidak shalat, merusak tempat ibadah agama lain, menghardik, curang dalam berdagang, tidak adil dalam memimpin. Padahal tak satupun itu dicontohkan Rasulullah. Tapi dunia menghakimi Islam. Bukankah itu patut dicurigai? Siapa yang bermaksud memunculkan kobar api kebencian terhadap Islam?

Kita ini mudah sekali menghujat sesuatu yang tidak benar-benar diketahui.

Beberapa hari yang lalu saya tergelitik oleh sebuah tweet di timeline dari sebuah akun. Kurang lebih begini isinya, “Kabarnya diklat PMBR hari ini Islami sekali ya.” Kemudian akun tersebut juga me-RT tweet-tweet yang menyindir secara negatif pihak tertentu. Dari sini jadi terlihat bahwa si admin sepaham dengan apa yang ia RT.

Beberapa orang saya wawancara prihal kabar itu. Beberapa tidak tahu. Beberapa menghujat, “harusnya ngga boleh gitulah..”, tapi ketika saya tanyakan, “kontennya apa?” semua bungkam.

Yang dibenci itu orangnya apa kontennya? kontennya jelek ya?
*sarkastis

Konsep

Sekarang ini sedang ngetren istilah Tuhan di dunia kita cuma ada satu, maksudnya semua agama sebenarnya menyembah Tuhan yang sama, cara beribadahnya saja yang berbeda. Bahkan di sebuah lirik lagu pop, ada yang menyebutkan, “Tuhan memang satu, kita yang tak sama.” Ada juga sebuah film independen yang mengangkat tema ini, dan ternyata sangat digemari terutama oleh pasangan-pasangan beda agama yang bersama atas nama cinta. Mari kita sebut konsep ini dengan istilah agama global.

“..aku bukan penyembah apa yang kamu sembah, dan aku tak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah yang aku sembah..”
(QS. Al-Kafirun: 3-5)

Beberapa waktu lalu saya buka kembali kumpulan ayat-ayat-Nya. Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membolak-balik halaman belakangnya adalah ayat itu. “…untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” begitu lanjutannya. Dari situ saya cuma bisa bilang bahwa saya tidak setuju dengan konsep agama global. Bisa dibilang, ini harga mati.

Saya beragama Islam. Walaupun saya bukan beragama Global ataupun agama lain, saya tidak membencinya. Untuk urusan norma kehidupan (akhlak), saya yakin banyak yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kasih sayang, dsb. Tapi untuk urusan kepercayaan yang paling dasar (aqidah), ayat yang saya sebutkan sebelumnya adalah jawabannya :)

Mungkin banyak yang berpendapat bahwa anggapan ini kuno: ‘Yang disembah di agama X’ itu berbeda dengan ‘Yang disembah di agama Y’. Terserahlah jika anggapan itu disebut kuno, tapi suatu konsep tetaplah sebuah konsep. Kapanpun tercetusnya, menurut saya cara seseorang menyikapinya tidak ada kaitannya dengan waktu. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana seseorang merespon sesuai pengetahuan yang dimilikinya, apakah konsep itu nantinya ditinggalkan, dicemooh, atau diikuti. Disinilah kewajiban kita sebagai seorang individu untuk terus mencari tahu banyak hal. Bukannya menghakimi mentah-mentah atas apa yang dilakukan orang lain.

Oke, ini jadi nyambung ke efpe-i. Haha. Buat teman-teman yang muslim, sebelum ‘memaki-maki’ efpe-i, kita coba cari yuk Islam itu sebenarnya seperti apa. Karena, kalo kita ngejelekin-jelekin mereka tanpa dasar yang jelas (apalagi kalo cuma berdasarkan berita di media atau omongan orang) memaki itu gampang, tapi.. jadi apa bedanya kita dan mereka?

Mungkin Al-Qur’an yang berdebu di rak buku itu merindukanmu.

Ps.
Anyway, fyi, saya ngga nyembah cinta.
Tapi saya suka dengerin Lady Gaga.